Fakta-Fakta Tentang HUT RI yang Tidak Banyak Orang Tahu

By On Kamis, Agustus 30th, 2018 Categories : Informasi Sejarah

Hari Ulang Tahun Republik Indonesia dirayakan setiap tanggal 17 Agustus. Sejak tahun 1945, Bangsa Indonesia telah merdeka dari penjajah kolonial.

Hal inilah yang membuat perayaan HUT RI selalu meriah. Mulai dari perayaan dengan beragam lomba sampaiĀ  upacara. Lomba-lomba rakyat pun digelar. Mulai dari lomba makan kerupuk, panjat pinang, tumpeng, sampai beragam lomba lainnya yang dikreasikan dengan kreativitas warga. Semua tampak meriah.

Upacara juga digelar dengan tidak biasa. Biasanya, upacara perayaan 17 Agustus biasanya akan melibatkan Pasukan Pengibar Bendera yang khusus dilatih untuk perayaan ini. Sehingga upacara selalu sangat terasa khidmat.

HUT RI juga dirayakan dengan menghias gapura sampai membuat spanduk. Untuk kalian yang ingin membuat desain khusus mengenai HUT RI, bisa menggunakan editor desain grafis gratis Canva.

Caranya cukup mudah. di sana kita tinggal memilih template yang diinginkan. Lalu, kita tinggal memasukkan foto atau gambar yang kita mau. Gambar yang dipakai bisa merupakan gambar sendiri, maupun gambar yang tersedia di Canva.

Kita bisa mengatur sendiri tentang tema warna, sampai dengan ukuran. Kita bisa memilih apakah akan membuat banner, poster, kartu ucapan, sampai dengan kata motivasi tentang semangat HUT RI.

Setelah selesai, desain kemerdekaan bisa langsung disebarkan kekerabat maupun keluarga. Dengan cara di-download, atau langsung dibagikan ke media sosial. Sehingga semua orang bisa mendapatkan semangat kemerdekaan yang kita rasakan.

Semangat ini perlu kita rasakan mengingat banyaknya perjuangan untuk mendapatkan kemerdekaan. Untuk memahami semangat kemerdekaan lebih lanjut, berikut adalah fakta-fakta yang perlu diketahui tentang HUT RI.

Naskah Proklamasi Tulis Tangan Soekarno

Naskah Proklamasi yang dibacakan tanggal 17 Agustus 1945 ditulis tangan oleh Soekarno pada dini hari sekitar pukul 02.00-03.00 dini hari. Kalimatnya sendiri ditekan oleh Muhammad Hatta dan Ahmad Soebardjo. Naskah tersebut ditulis di buku catatan milik Soekarno sebelum akhirnya diketik ulang oleh Sayuti Melik. Naskah yang diketik inilah yang hingga kini disebut sebagai Naskah Proklamasi Otentik. Konon, naskah proklamasi yang ditulis tangan Soekarno dibuang oleh Sayuti Melik setelah diketikkan. Tapi naskah tersebut diselamatkan oleh BM Diah.

Tanda Tangan Bersama Proklamasi

Seperti Naskah Proklamasi Amerika Serikat, pada awalnya Naskah Proklamasi RI akan ditandatangi oleh seluruh anggota yang hadir dalam perumusannya; yaitu anggota PPKI dan perwakilan pemuda. Ide ini dicetuskan Mohammad Hatta dan disetujui oleh Soekarno. Tapi hal ini ditolak oleh Sukarni, salah satu tokoh pemuda. Akhirnya disepakati Naskah Proklamasi ditandatangani oleh Soekarno dan Muhammad Hatta atas nama Rakyat Indonesia.

Proklamasi di Lapangan Ikada

Kelompok Pemuda sudah merencanakan pembacaan Proklamasi dilakukan di Lapangan Ikada. Tapi, Soekarno menolak rencana tersebut karena pembacaan Proklamasi Kemerdekaan di lapangan dan terbuka bisa menimbulkan salah paham dengan Militer Jepang yang saat itu berkuasa. Hal ini bisa menimbulkan masalah karena masa yang terbuka akan memancing pemerintahan militer Jepang. Ia kemudian mengusulkan halaman rumahnya di Pegangsaan Timur No. 56 . Semua peserta yang hadir akhirnya menyetujui usulan tersebut.

Sakit Malaria Soekarno

Proklamasi dibacakan pada bulan Ramadhan. Soekarno saat itu sedang sakit malaria. Ia sempat sahur di rumah Laksamana Maeda saat menyusun Naskah Proklamasi, tapi tidak melanjutkan puasanya karena sakit. Setelah membacakan Naskah Proklamasi, ia langsung kembali kekamarnya untuk beristirahat.

Pelarangan Proklamasi oleh Jepang

Lima orang opsir Jepang mendatangi Soekarno dan menyampaikan perintah Kepala Pemerintahan Militer Japang yang melarang Soekarno untuk membacakan Proklamasi. Tapi saat mereka datang, Proklamasi sudah dibacakan. Barisan pelopor yang menjaga rumah Soekarno langsung bersiaga dengan menggunakan golok dan bambu runcing. Sehingga opsir Jepang tersebut meninggalkan kediaman Soekarno.

Dokumentasi Proklamasi

Dokumentasi pembacaan Proklamasi tidaklah terlalu baik. Hanya ada tiga foto otentik pembacaan naskah proklamasi. Yaitu foto Soekarno saat membacakan Naskah Proklamasi, foto pengibaran bendera, dan foto massa yang hadir. Tidak ada rekaman video atau suara sama sekali. Suara Soekarno yang membacakan naskah proklamasi yang biasa kita dengarkan adalah rekaman yang diambil tahun 1951 di Radio Republik Indonesia (RRI) untuk dokumentasi arsip nasional.

Fakta-Fakta Tentang HUT RI yang Tidak Banyak Orang Tahu | salampendidikan | 4.5